Ki Purbo Asmoro

Ki Purbo Asmoro sebelum mementaskan Sumilaking Pedhut Astina di Gedhung AKA
Jakarta Selatan, Maret 2007
foto sumbangan dari Prapto Panuju
* "priyayi" bisa diartikan sebagai gabungan dari halus, berkelas, berpendidikan dan perwira
Purbo Asmoro adalah salah satu dari tokoh-tokoh superstar seni pentas sekaligus tokoh karyacipta paling terkenal yang dikagumi kepiawaiannya di dunia pedalangan saat ini. Beliau juga dianggap pelopor sentuhan klasik pada pewayangan modern, yang terkenal dengan istilah garapan.
Purbo Asmoro dilahirkan di desa Dersana, Pacitan, Jawa Timur pada tahun 1961. Beliau mampu menelusuri silsilah resmi keluarga sedikitnya sampai enam generasi dalang, dan lebih banyak lagi menurut cerita keluarga. Purbo Asmoro adalah dalang pertama dalam keluarganya yang menempuh pendidikan formal. Beliau memperoleh gelar masternya dalam seni pertunjukan dari UGM, salah satu dari universitas paling bergengsi di Indonesia.
Selain sebagai dosen pada jurusan pedalangan di ISI Surakarta, saat ini Purbo Asmoro membagi waktu untuk karir pentasnya yang padat. Beliau memiliki pengagum dari kalangan akademisi maupun komunitas penggemar berat yang tersebar di seluruh Jawa.
Purbo Asmoro terkenal lebih-lebih atas kemampuannya berkaryacipta namun tetap sangat dihormati dan juga kehalusan sastranya pada pentas-pentas wayang klasik. Masyarakat internasional setiap kali mengundangnya dan beliau telah mengadakan tur yang sangat sukses ke Amerika, Inggris, Jepang, Bolivia, Singapura, Austria, Thailand dan Yunani. Pada tahun 2009 beliau melakukan serangkaian pentas wayang di Paris dan Normandia, pada Maisons des Cultures du Monde. Baru saja, kemarin Agustus 2010, Ki Purbo mengadakan tur ke India (New Delhi dan Jaipur).
Pada tahu 2007, Museum Seni Rakyat Internasional di Santa Fe, negara bagian New Mexico, membeli seperangkat wayang kulit lengkap dari beliau. Wayang-wayang tersebut menjadi bagian dari pameran besar untuk pendidikan, yang dibuka dari Maret 2009-Maret 2010. Pada bulan Agustus 2009, beliau terbang ke Santa Fe untuk berpentas di museum tersebut, dan mampir di Houston, Texas, pada Rice University’s Sheppard’s School of Music.
Trend pewayangan saat ini seringkali bervariasi dari garapan baru yang ekstrim sampai pentas hiburan ringan terbatas oleh segelintir orang. Namun, Purbo Asmoro tetap setia pada wayang sebagai filosofi, sastra lisan dan sumber gagasan yang dibawakan dengan gaya dramatis dan menghibur dengan tetap menghormati tradisi maupun karyacipta.
Purbo Asmoro menikah dengan Sudi Rahayu, lulusan dari jurusan tari SMKI, yang juga seorang sinden dan berasal dari Purwodadi. Mereka dianugerahi dua putra, yaitu Indhung Prabancana, 24, dan Kukuh Indrasmara, 19. Dua-duanya sedang meniti karir di seni pertunjukan.

Purbo Asmoro bersama bapak beliau, Ki Dhamiri Soemarno, Dersono, Pacitan.