Ki Purbo Asmoro

New Delhi dan Jaipur, INDIA
19 Agustus-25 Agustus 2010
para sponsor:
The Indian Council of Cultural Relations (ICCR), New Delhi
Mr. YL Rao, director
The Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre (JNICC), Jakarta
NETPAC Conference 2010
(Network for the Promotion of Asian Cinema)
The Indian Embassy in Jakarta
Selama bertahun-tahun, Ki Purbo Asmoro telah mengungkapkan minatnya pada pertukaran budaya dengan India, “tanah kelahiran” epik Mahabharata dan Ramayana asli. Gagasan mementaskan wayang kulit Jawa untuk penonton India, dan kesempatan berdiskusi tentang Mahabarata dan Ramayana dengan seniman-seniman dan rakyat India biasa, menimbulkan daya tarik bagi Ki Purbo Asmoro. Pada bulan Agustus 2010, beliau menerima undangan resmi untuk berpentas di konferensi NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema). Undangan tersebut didukung oleh organisasi-organisasi yang telah ditulis di atas, dan tur dua kota di India utara—New Delhi dan Jaipur—pun disusun.
Perjalanan tersebut dimuali pada tanggal 19 Agustus, ketika Ki Purbo Asmoro dan empat pengrawit dari Solo tiba di Jakarta, dan mengadakan pembicaraan sebelum berangkat, pentas dan sesi tanya/jawab di kediaman Kitsie Emerson dan Wakidi Dwijomartono, Kemang, Jakarta Selatan. Ki Purbo Asmoro telah merencanakan dengan teliti iringannya, dan dengan kepiawaiannya yang luar biasa dapat menyusun iringan dengan suara lengkap hanya dengan lima pengrawit.
* Joko Dwi Suranto: kendhang and gerong
* Bambang Siswanto: demung, gerong, DAN bahkan sindhenan (selama klenengan)
* Sawiji: gong, kempul, kenong, kethuk, kempyang, dan bahkan kadang-kadang bonangan
* Sunardi: saron dan gerong
*Wakidi Dwidjomartono: gender, saron wayang, gerong
* Kitsie Emerson: penterjemah langsung dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris, diketik dan diproyeksikan pada layar.
Ki Purbo Asmoro dan rombongannya menampilkan dua pentas WIRATHA PARWA (versi 60 menit), beberapa kali bincang-bincang sebelum pentas, sesi tanya jawab di New Delhi. Mereka naik bus selama 7 jam ke Jaipur dan berpentas di sana juga. Mereka mengunjungi the Gandhi Memorial dan pasar tradisional.
Tetapi bagian dari perjalanan yang paling dahsyat dalam banyak hal adalah ziarah Ki Purbo Asmoro ke Purana Qila, situs kuno Kerajaan Indraprastha dari pada Pandawa, sekitar 3000 SM. Meskipun banguan-bangunan situs tersebut bukan berasal dari zaman Pandawa (!), daerah—situs tersebut—telah ditetapkan oleh para arkeolog sebagai yang paling mungkin merupakan situs kerajaan besar Indraprastha. Itulah saat-saat yang dahsyat di antara saat-saat yang lain.
Ki Purbo Asmoro memanfaatkan setiap waktu bebasnya untuk mempelajari pengetahuan orang India dan pengalaman/perasaan tentang Mahabharata. Beliau terpesona oleh pengalaman yang beliau dapatkan di sana, dan perjalanan tersebut telah mengukir kenangan yang dalam bagi kami semua untuk masa-masa yang akan datang.